News

16 - 04 - 2021

ZEZYA

KEPAKAN SAYAP PERTAMA ZEZYA, "LULU"

Walaupun pandemi belum berakhir, skena kreatif kota Malang tidak kehilangan semangat dan talenta yang kian bermunculan. Zezya, sebuah projek solo dari Zezya Yuviant akan meluncurkan debut singlenya di hari Jumat, 16 April 2021. Single ‘Lulu’ yang di produksi oleh Minorcubes Studio dan diproduseri oleh Bie Paksi (Wake Up Iris) membawa nuansa easy-listening pop-electronic ini akan menjadi penghantar karya Zezya kedepannya.

Diambil dari pengalaman hidup Zezya yang mengalami metamorfosis, dari seseorang yang tidak berani mengambil keputusan dalam kehidupannya menjadi sesosok Zezya yang mulai belajar mendengar dirinya sendiri dan berani menghadapi ketidaktentuan hidup, ‘Lulu’ menjadi penanda dan ajakan bagi pendengar yang sedang mengalami hal yang sama. ‘Lulu’ sendiri terinspirasi dari cerita fabel yang didengar oleh Zezya pada masa kecilnya, menggambarkan seekor kupu-kupu yang sedang berpetualang, dan ingin diangkat oleh Zezya sebagai simbol perubahan dalam hidupnya.

Dalam single ini, Zezya berperan sebagai penulis lagu utama, aransemen lagu oleh Bie Paksi (Wake Up Iris, Minorcubes) , Rian (Ruang Kendali) dan Bimo (Ruang Kendali) dan proses perekaman dilakukan di Minorcubes Studio.

Beriringan dengan dirilisnya single ‘Lulu’, Sindikat Spora Management yang menaungi Wake Up Iris, Ruang Kendali dan Zezya juga akan merilis Live Session dari ‘Lulu’ dan accoustic version dari Tale About You, single rilisan Zezya berikutnya. Single ‘Lulu’ dapat dinikmati di berbagai platform digital sejak tanggal 16 April 2021.

19 - 02 - 2021

RUANG KENDALI

EGO, PERSEMBAHAN KEDUA DARI RUANG KENDALI

Mimpi basah bernama “kebebasan” ditabrakkan dengan ketidakpastian akan masa depan.
-
Ruang Kendali membuka 2021 dengan merilis single kedua. Berjudul "Ego", rilisan terbaru unit alt-rock asal Malang tersebut sudah bisa dinikmati di berbagai gerai digital mulai tanggal 19 Februari 2021. Tak hanya itu, Music Video (MV) nomor tersebut juga telah tersedia di YouTube.

Berbicara tentang MV-nya, terpantau ada nama Jovian Fraaije dalam kredit video ini. Nama pemuda asal Malang tersebut sekilas tak terdengar asing, karena ia pernah menggarap karya audiovisual musisi-musisi seperti TuanTigaBelas, Sore hingga Slank. Di sini ia berperan sebagai director dan dibantu Dimas Prasetya sebaga editor videonya.

“Secara konsep, aku pengen nunjukkin sisi raw-nya Ruang Kendali. Dimulai dari MV ini, untuk visual aku bikin semua pake handycam. Setelah itu aku preview di TV tabung dan di ending scene ada pemecahan TV untuk menambah kesan tersebut,” tuturnya. Dia juga bercerita mengenai konsep & simbolisasi per scene “Ego”, “Kayak semisal kenapa Abink (vokalis) pake baju pasien & personel lainnya jadi tenaga medis. Terus ada juga scene Ditra (bassist) yang tersiksa di dalam air. Itu semua berangkat dari pemaknaan lagu ini sendiri,” tambah pemuda kelahiran 1997 ini.

Lalu apakah makna di balik lagu ini?

Ditra mengatakan jika "Ego" adalah soal kebimbangan akan menentukan arah hidup. Sedikit banyak, diakuinya, lagu ini cukup personal bagi dirinya. “Oke kita memang bebas menentukan mau jadi apa & siapa. Tapi di sisi lain kita juga gak tahu bakal kayak gimana ke depannya. Apa hal-hal yang kita putuskan ini bakal berakhir baik, atau malah bikin kita tersesat?,” tutur mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Malang ini.

“Orang-orang sekitar --bahkan yang terdekat sekalipun-- lalu memberikan pilihan-pilihan yang bisa jadi ‘titik aman’, setidaknya dari sudut pandang mereka. Entah dengan saran, sampai pemaksaan, lanjutnya. “Input-input sekitar tersebut, ditambah keadaan diri yang belum ajeg itulah yang akhirnya membentuk konflik dan kebingungan dalam batin kita. Makna tersebutlah yang ingin kami tuangkan dalam ‘Ego’.”

Secara dapur, lagu ini digarap di Five Art Studio (terutama untuk draft & workshop) dan difinalisasi di Minorcubes Studio (recording, mixing, mastering) yang berada di kota Malang. Produksi lagu ini dipegang oleh Deny Pigawahi dan Bie Paksi.  Bie sendiri yang merupakan setengah dari Wake Up, Iris! juga berperan dalam mixing dan mastering produk akhir lagu ini.

Ruang Kendali sendiri merupakan kuartet alternative rock yang dibentuk di Malang pada tahun 2020. Didirikan oleh Abdullah Bilbas (Abink) pada vokal, Andrian Adianto pada gitar, Bimo Donoseputro pada gitar, Ditra Tryasniansa pada bass, dan Andhi Indra pada drum, kumpulan pemuda ini kabarnya tengah sibuk mempersiapkan EP perdana yang akan dirilis di pertengahan tahun 2021.

“Kami juga tengah mempersiapkan beberapa movement, baik untuk band ini sendiri maupun dengan menejemen kolektif bernama Sindikat Spora di kota Malang. Kolektif tersebut adalah inisiasi menejemen kolektif berisikan 3 band yaitu Wake Up, Iris!, Ruang Kendali, dan soloist bernama Zezya,” terang Bimo Donoseputro saat ditanya apa langkah Ruang Kendali selanjutnya. “Di masa seperti ini, kami memandang sudah saatnya kita berkoloni, merangkul kanan-kiri, dan membuat sesuatu yang lebih bersifat ‘ke depan’.” Well, tentu patut ditunggu bagaimana kiprah mereka ke depannya.

Namun sebelum itu, silakan mendengarkan “Ego” di YouTube & berbagai gerai digital.
-
-KMPL-

Ego by Ruang Kendali
Written by : Abdullah Bilbas, Andhi Indra Wicaksana, Andrian Adianto, Bimo Donoseputro, Ditra Tryasniansa

Release date : 19 Feb 2021
Producer : Deny Pigawahi & Bie Paksi
Arranger : Ruang Kendali
Mixing Mastering: Bie Paksi
Recorded at : Minorcubes Studio
Production Line : Minorcubes
Production Year : 2020

09 - 02 - 2021

SINDIKAT SPORA

SINDIKAT SPORA, KOLONI BARU DI KOTA MALANG, SEMANGAT DI MASA PANDEMI

Pandemi belum berakhir namun karya harus terus tersampaikan. Di tengah situasi yang tidak memperbolehkan karya-karya musik, visual dan berbagai macam karya lainnya ditampilkan secara offline, bukannya menyurutkan langkah malah semakin jadi tantangan tersendiri bagi penggiat kreatif di berbagai lini. Berbagai album dan single baru terus bermunculan setiap minggunya, berbagai pergerakan dengan beragam bentuk terus menerus kita temui. Tidak sedikit, konsep kolaborasi secara nyata menjadi semakin banyak. Baik kolaborasi antar bidang maupun di dalam bidang yang sama. Berkumpul, menyatukan visi dan bahu-membahu mewujudkan tujuan-tujuan tertunda di tahun lalu, inilah juga yang dilakukan oleh Sindikat Spora. Koloni ini, begitu mereka biasa menyebut diri mereka, akhirnya mengukuhkan diri untuk berjalan, belajar dan berkarya bersama dalam satu naungan manajemen kolektif Sindikat Spora.

“Sebenarnya ide ini sudah ada sejak 2019, ketika kami masih memiliki ruang kreatif bernama Backline di Malang. Namun rupanya baru benar-benar menemukan jalan dan bertemu dengan penggiat kreatif yang memiliki semangat yang sama ya di masa pandemi ini” jelas Bie Paksi (Wake Up Iris!), salah satu inisiator koloni ini. “Tengah tahun 2020 kami sempat mampir ke creative space Lib Art milik Farid Stevy (FSTVLST) dan banyak bertukar pikiran bagaimana menyikapi situasi baru ini, sebuah semangat untuk berjalan bersama dan saling menguatkan satu sama lain menjadi pilihan yang masuk akal dan kami sepakat dengan apa yang Farid Stevy canangkan, kita harus berkoloni.” tambah Vania Marisca (Wake Up Iris!). Untuk bertemu dengan musisi yang memiliki semangat dan tujuan yang sama tentu tidak mudah. Para inisiatornya, sebuah unit musik Wake Up Iris!, menjelaskan bahwa mereka yakin semesta akan membuka jalan pada waktu yang tepat. “Rupanya, dari tongkrongan kecil bertemu dengan musisi-musisi baru dan bertukar pikiran dengan penggiat kreatif lintas bidang akhirnya kami dipertemukan dengan Ruang Kendali dan Zezya di tahun 2020” lanjut Bie Paksi. Bibit-bibit baru inilah yang menyambut baik ide berkoloni ini sekaligus bersemangat untuk mewujudkannya.

Bergabungnya dua projek musik baru ke dalam Sindikat Spora menjadi semangat tersendiri bagi para inisiator untuk mewujudkan langkah berkoloni ini. “Dari sesederhana, guyonan kita nyambung, lalu ketika ngobrol panjang-lebar mengenai projek Ruang Kendali bersama Bie dan Vania kami menemukan banyak persamaan visi dan misi. Hal ini membuat kami semakin yakin untuk membentuk Sindikat Spora bersama” tutur Bimo, gitaris dari Ruang Kendali. Hal yang sama juga diamini oleh Ditra, basis dari Ruang Kendali “Selain itu, di sini kami juga dapat mengembangkan diri dan bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan-tujuan itu. Saling menyokong, saling membantu, tidak ada yang tidak penting”. Sebagai projek musik paling muda, Zezya, ia tertarik bergabung karena Sindikat Spora membantunya untuk mewujudkan impiannya sejak lama, berkarya dalam musik. “Lagi-lagi karena ada kesempatan nongkrong bareng, mereka (Vania dan Bie) tahu mengenai projek musikku dan dapat mewujudkannya dari produksi musik hingga manajemennya. Beberapa personel Ruang Kendali juga ikut nimbrung dalam pembuatan lagu. Walaupun awalnya ragu karena situasi pandemi seperti ini, ketika melihat orang-orang dengan semangat dan frekuensi yang sama aku jadi ikut semangat”.

Sindikat Spora bergerak sebagai management in-house dari Wake Up Iris!, Ruang Kendali dan Zezya dan juga akan terlibat secara langsung dalam produksi musik, PR & promotion, management dan technical team seperti crew dan soundman. Markas besar Sindikat Spora berada di sebuah creative-hub baru yaitu di Droomhaven Coffeeshop, Malang yang juga diinisiasi oleh Wake Up Iris! dan partner. Selanjutnya, Sindikat Spora akan menyiapkan berbagai event dan workshop yang berkaitan dengan industri kreatif untuk kembali menghidupkan semangat penggiat kreatif kota Malang pasca pandemi. Info mengenai pergerakan Sindikat Spora dapat pembaca pantau di website resmi www.sindikatspora.com dan instagram @sindikatspora.